Selasa, 15 Januari 2013
Sabtu, 12 Januari 2013
Cerita Bersambung - Jonny Double L (3)
Yah,
ini akhir pekan yang aku rasa setiap orang pun menikmati hal yang sama, kecuali
mereka yang dengan getolnya mencari-cari
materi sebanyak apapun. Dan juga terkadang hal yang tak sepantasnya dan juga
membuat susah orang lain banyak ditempuh oleh orang-orang seperti ini. Dan aku
lagi-lagi bersyukur karena aku bukan termasuk kedalam kelompol orang yang
seperti itu. Entah apa yang difikirkan mereka. Apa mereka sudah tak takut lagi
pada-Mu, Tuhan?
Sabtu
yang cerah ini, padahal sebenarnya hampir tak ada perubahan seperti sabtu yang
sebelumnya. Tapi entah kenapa aku sangat bersemangat hari ini. Semua tugas
kantorku, aku temani dengan lagu-lagu berirama yang tak terlalu beat up, tetapi tetap membuatku
bersemangat. Lagu-lagu cinta? Aku rasa tak semua yang ada di playlistku ini semuanya lagu cinta
total.
Yang
pasti, aku binggung. Tak apalah. Setiap orang pun juga pernah yang merasakan
semangat yang tanpa batas ketika mereka tak tahu apa itu penyebabnya. Membuat
mereka berfikir pepohonan yang selalu menghijau dan bunga yang bermekaran hanya
diperuntukkan bagi dirinya. Saat hembusan angin seperti bisikkan yang membuat
lebih santai dan seolah waktu tehenti seperti kehilangan tenaga untuk berputar
dari baterai. Dan tiba-tiba mereka menjadi seolah-olah seorang pujangga,
ataupun penyair yang bahkan tak tahu lulusan dari universitas mana. Tapi kali
ini, aku hanya bisa mengatakan itulah anugerah dari-Nya yng sering kita
lupakan. Karena kita diciptakan dengan penuh misteri, begitupun dengan
kelahiran kita yang rahasianya belum pernah bocor sampai sekarang. Dan juga
dengan perasaan diri kita masing-masing.
Dan
hari ini, aku berhasil mencetak rekor entah untuk kompetisi apa. Hari ini aku
berhasil menyelesaikan semua tugas kantorku tepat setengah jam sebelum jam
makan siang. Walapun tak ada museum yang mencatat rekorku barusan, aku tak
peduli. Karena ini pecan yang ingin kuhabiskan dengan beragam perasaan suka
cita. Dan sebelum itu, tentulah makan siang yang terpenting.
Pernah
terfikir, aku ini orang yang seperti apa? Dan aku pun terkadang bingung untuk
menjawabnya sendiri. Tak konsisten atau apalah sebutan yang cocok untukku
nantinya. Lain halnya, tempat makan siangku nyaris tak pindah tempat. Mungkin
karena rasanya yang enak, atau pelayanannya yang bersahabat, harganya juga yang
menarik, atau apa lagi. Aku tak tahu lagi kemungkinannya. Tapi semua
kemungkinan itu sepertinya ada untuk tempat makan yang satu ini. Dan
menyenagkan tentunya.
Dan
selepas aku melepaskan salam perpisahan untuk berjumpa lgi nanti malam kepada
dua orang idiot itu, aku langsung saja mengayuh sepedaku ketempat makan yang
jarangnya hanya empat blok dari kantor.
Cuaca siang ini pun begitu terasa akan keperkasaan sang raja siang, sehingga
membuat dahiku selalu mengkerut dan mataku menjadi keturunan Chinese yang rata-rata lebar matanya tak
lebih dari 1cm. Maaf kalau ada yang marah nantinya.
Tepat
12.10.
Dan
tanpa banyak tanya lagi kepadaku, salah satu pramuniaganya sedang menyiapkan
segelas air putih untuk menghilangkan dahagaku setelah lelah bersama sepeda. Selayang
pandang, kuedarkan mataku keseluruh penjuru tempat ini. Sembari menuggu, jari
telunjuk kananku, memainkan irama sembari megadu kemeja. Menjelentik tak jelas,
mungkin memang salah satu kebiasaan orang banyak yangsedang menunggu seperti
yang aku lakukan ini. Tak lebih dari 15menit ternyata makan siangku sudah
menunggu untuk dimusnahkan dengan gigi putihku.
Memulainya
dengan berdoa, menyantapnya dengan nikmat. Aku rasa siapapun yang melihat ku
makan siang hari ini, pasti iri. Bukan karena menu yang kupilih mewah tetapi
gaya makanku yang sudah menyerupai dengan host
acara makan-makan. Yang dituntut untuk membawakam acara seheboh mungkin.
Tak
lebih dari setengah jam aku beristirahat disana sesudah jadwalku makan, aku
memikirkan hal apa lagi yang ingin aku lakukan selanjutnya. Bermain di gamezone, atuakah menghabiskan siangku
ini denga menonton bioskop. Ahh, tapi hal seperti itu sudah sering aku lakukan
ditiap awal dan pertengahan bulan. Ya mungkin karena tak ada lagi yang bisa ku
ajak untuk bermain. Berfikir dan terus berfikir, berfikir tak jelas. Dan
tiba-tiba kudapati jejak roda sepeda ini menuntunku kembali kerumah ku ini.
Apa
orang lain juga pernah merasakan hal yang baru saja aku alami ini Tuhan. Tak
ada fikiran sebelumnya, tapi tak disengaja dituntun untuk ketempat yang selalu
saja ada dihati, ataupun tempat yang ingin sekali dikunjungi tanpa rencana dan
pemikiran yang matang. Dan tentu saja bersama orang yang disayangi.
Terus
saja kupandangi seluruh isi ruangan ini. Sampai tepat ke kamarku sendiri yang
selalu rapi, ya walaupun tak terlalu rapi untuk ukuran orang lain. Sekali lagi
kupandang, aku berfikir apa yang kurang dari kamar dan rumah ku ini? Mengapa masih saja ada yang kurang?
Ah, aku sudah lelah berfikir untuk hari ini. Hari yang panjang. Tapi aku belum
mendapatkan hal baru hari ini yang juga tak kalah menyenangkanya. Dan…..
Jumat, 11 Januari 2013
Cerita Bersambung - Jonny Double L (2)
Pagi yang menyenangkan
seperti biasanya. Kesibukan orang dipagi hari, hijaunya dedaunan yang ada,
angin yang sejuk dan bersahabat, dan dipandu oleh iringan paduan suara dari
para burung liar yang ada. Hal ini yang aku nikmati hampir disetiap hari. Dan
mungkin kali ini pun aku harus berterima kasih kepada Tuhan, karena dia seorang
arsitek yang sangat sempurna. Dan hampi sama sempurnanya seperti kecantikan
seorang gadis yang selalu masuk dalam daftar yang ingin aku temui di tiap
harinya.
Tiap pagi, dengan jam
yang tak pernah berubah, yakni 7.20. Aku selalu bisa mendapati dia sedang
membersihkan kafe tempatnya bekerja. Ya, dia merupakan salah satu pramuniaga
yang ada disana. Tapi sekali lagi, diantara semua pramuniaga, tak ada yang
secantik dirinya. Dan aku rasa tak akan ada yang protes. Dan Kau, Tuhan, jangan
pernah cemburu jika aku menyukainya.
Olivia. Itu nama yang
tepat untuk dia, dibandingkan dengan Jonny Double L. Dalam perjalanan ku,
selalu kesempatkan untuk berhenti sekitar 4-7 menit untuk kuhabiskan menatap
mukanya yang membuatku bahagia. Aku selalu menatapnya ditempat yang sama setiap
paginya. Di trotoar seberang jalan yang tepat sekali bersebelahan dengan sebuah
kotak pos, dan didepan sebuah toko musik. Tak kan aneh, kalau selanjutnya
timbul pertanyaan yang sama seperti biasa, “kapan aku bisa mengajaknya kencan?
Menghabiskan waktu bersama? Satu hari penuh, aku rasa tak kan membosankan.”
Sejak dua bulan yang
lalu, hal itu pun tak pernah terwujud. Entah apa yang ada di dalam benakku saat
itu dan sampai sekarang. Aku malu? Aku takut? Atau aku tak percaya diri? Ataukah aku hanya belum mencoba saja? Mungkin
itu pertanyaan yang tepat. Tapi kapan aku berani untuk memulainya?
Dalam perjalanan ku
menuju kantor, aku selalu memikirkan kapan untuk mendekatinya. Dan juga dengan
cara apa aku akan mendekatinya. Apa Kau pernah mempermasalahkan ini Tuhan, malu
untuk bertemu gadis yang sangat disukai? Haha, aku lupa karena Kau tak akan
menyukai gadis apalagi sampai hati memperebutkan Olivia dengan diriku. Karena
aku yakin kau akan mendukungku untuk mendapatkan dirinya itu. Dan untukmu ibu,
anakmu ini sedang menyukai seorang gadis yang tak kalah cantiknya dengan
dirimu.
Sesampainya dikantor,
akhirnya keputusanku sudah bulat. Aku akan mengajaknya berkenalan dan juga
bicara dengannya dengan obrolan yang menarik tentunya. Tiga hari. Ya, tiga hari
aku akan mengajaknya kencan. Dan selama
tiga hari itu aku akan selalu berkunjung dan sarapan pagi di Pineapple
Café. Tempatnya bekerja. Ya, harus seperti itu. Itulah laki-laki. Bukankah
begitu, ibu?
Dan tanpa aku sadari,
sedari tadi aku senyum sendiri sampai ke meja kerjaku. Pantas saja aku menjadi
tontonan gratis dipagi hari karena tingkah konyolku tadi.
“Selamat pagi, Pak
Crist?”
“Pagi Jonny.”
Crist Tampubolon.
Dialah pimpinan yang sekaligus pemilik advertising ini. Dan masalah tentang IT,
itulah hal yang menjadi ‘makananku’ dan dua rekanku Boy dan Doni, dan kami
bertiga dikomandoi oleh Pak Hadi. Aku, Boy dan Doni sudah menjadi three
musketeer dalam perusahaan. Karena kami
sangat menyukai pekerjaan kami, informatika yang langsung nyambung ke internet.
Kami melakukan hal-hal yang kami suka. Dan aku menjadi teringat dengan
kata-kata dari Pak Tomo, “lakukanlah apa yang kau sukai, karena hanya Tuhan-lah
yang bisa melakukan segalanya.” Dan aku sepakat dengan apa yang dikatakan
beliau.
“Hei, double L. Baru
dateng lo?” ya, jika nada yang selalu menghinaku dipagi hari ini sudah pasti si
Boy, menyapaku, dan aku tak merasa aneh dengan sebutannya itu.
“Yap, telat dikit. Tadi
ada masalah dikit di kafe”, sahutku asal saja.
“Anak mana yang ganguin
lo double L?” tambahnya lagi sok jagoan.
“Alah, sok berani, tapi
bisanya cuma keroyokan. Itu kan lo banget, Boy”, dan suara yang paling
bijaksana diantara kami bertiga, Doni.
“Haha, keluar tuh aib lo,
Boy”, maksudku membuat suasana tambah ramai.
“Siapa yang bilang? Kan
belum ada buktinya, bro. Enak aja. Eh, double L, malam ini lo ada kerjaan gak?
Gue ama Doni mau keluar bareng ama pacar-pacar kita. Ikut aja ya? Siapa tahu lo
dapet pacar nanti malem, ya gak Don?”
“Betul banget. Gue setuju
kali ini. Jadi, Jonny malem ini lo jangan gak bisa ikut hang out bareng kita.
Kalo gak, gue gak tahu lo mau diapain ma Boy, hahaha…”
“Oke deh. Malem ini gue
juga gak ada kerjaan yang penting banget. Dan siapa tahu gue dapet pacar yang
kayak lo bilang tadi Boy. Tapi kalo gak dapet, lo mesti beliin gue satu set ban
sepeda baru. Gimana, setuju gak lo?”
“Siapa takut. Oke!”
Itulah kondisi dikantor
sehari-hari. Banyak hal yang sangat menyenangkan. Memiliki sahabat seperti mereka.
Bersama-sama dengan mereka. Membuat kegaduhan bersama di ulang tahun
perusahaan. Bekerja sama dalam satu tim. Makan siang bersama. Meski bayar
sendiri-sendiri. Tapi aku menikmatinya. Menghabiskan waktu dari jam 8 sampai 4
sore, dan kecuali sabtu hanya sampai jam 3. Tak terasa bersama mereka. Dan
malam ini pun aku harus bersiap pergi bersama mereka. Walaupun hari ini pulang
dari kantor jam 3, aku harus bergegas mengayuh sepedaku. Karena aku takut
telat, dan setan Boy itu akan komat-kamit tak karuan. Ya begitulah, lain
orangnya lain-lain pulalah sifat dan kpribadiannya. Dan aku senang berteman
dengan mereka berdua.
Kamis, 10 Januari 2013
Cerita Bersambung - Jonny Double L
Jonny L L (double ‘L’),
pemuda yang dilahirkan 24 tahun lalu dengan sehat dan juga dalam keadaan yang
ceria waktu. Bayi lucu yang lahir dengan berat yang sekitar 2,5 pound it uterus
saja menangis semenjak kedatangan nya ke muka bumi ni. Seakan-akan dia ingin
menjadi seorang penyanyi tenar dimasa yang akan datang. Mungkin semakin
meyakinkan semua perawat yang ada disana karena suara lengkingan yang kian
menjadi karena mungkin bayi sdh sangat lapar. Yang kemudian sang bayi itu
semakin kerasnya sehingga mungkin ia akan mengganti jenis aliran musiknya
menjadi music ‘Rock’, ketika ia tak mendapatkan asi dari sang ibu karena telah
meniggal dunia. Bayi itu ada di ruagan bersalin dengan tanpa satu orang pun
keluarganya yang menemani. Yatim piatu merupakan gelar yang langsung didapatnya
saat setelah ia lahir.
Yah, itulah sepengalan kisah menarik dari
seorang Jonny Double L dalam kisah ini. Dan setelah meninggalnya sang ibu, bayi
itu dirawat di sebuah panti asuhan KELUARGA BESAR, dan disanalah dia
mendapatkan nama Jonny Land Lincoln. ‘Land Lincoln’? Ditambah lagi dengan nama
depan Jonny? Entah apa yang ada difikiran para pengurus panti, tanpa basa-basi
lagi langsung memberi nama seperti itu. Apa mereka tidak butuh pendapatku
mengenai nama yang akan aku pakai setiap harinya? Sepertinya waktu itu aku
ingin sekali mengadukan hal ini ke KOMNASHAM. Walaupun saat itu aku belum sama
sekali bisa bicara. Ya, setidaknya mereka menyediakan transletter ke bahasa bayi atau balita. Aku rasa itu cukup.Tapi
entah kenapa memang bayi dan juga balita seperti aku yang dulu, adalah warga
negara yang paling tidak bisa dapat mengeluarkan pendapatnya. Walaupun hanya
menangis, itu sebenarnya kami sedang berpendapat.
Aku tertawa jika aku
mengingat kembali kisah yang menyedihkan bagi ku, walaupun tak pernah bisa aku
tangiskan. Aku tak tahu ayahku, foto ibuku pun tak ada satu helai pun ikut
bersarang di dompet ku, ataupun di kamarku. Aku ingin sekali membayangkan paras
ibu ku sendiri yang cantik, lembut hatinya dan segala macam sifat kebaikan yang
ada dalam malaikat. Tapi pada akhirnya sketsa amatirku tak ada yang selesai.
Aku selalu menyerah membayangkannya, karena memang aku tak tahu sama sekali.
Aku berharap Tuhan sempat menyimpan foto ibuku di dalam diary-Nya, dan kemudian
bersedia memberikannya kepadaku. Karena memang sudah seharusnya Dia
memberikannya kepadaku.
Sudahlah. Aku harus
menjalani aktifitas pagi hari ini seperti biasa, penuh semangat dan juga banyak
sekali yang ingin kulakukan dan juga kutemui. Dan pagi ini seperti biasa aku
selalu mendoakan ibuku, semoga saja dia baik-baik saja disana, makan yang
cukup, dan Tuhan menjaganya dengan baik. Dan Tuhan, tolong jaga ibuku. Jika ada
laki-laki yang menggangunya, laporkan saja padaku. Menggelikan. Berdoa seperti
itu, apa mau Tuhan mengabulkannya? Tapi sudahlah, aku tahu Dia maha memaafkan.
Dan juga doaku kan untuk kebaikan ibuku yang selalu ku sayang.
“Selamat pagi dunia,
matahari, penduduk kota, semuanya. Apa kabar kalian?“
Dan langsung kuteruskan
dengan mengambil posisi push-up dan sit-up masing-masing dua set. Dan posisi
pull-up, dan terakhir dumble pun aku ayunkan. Di sebuah
apartemen sederhan ini memang aku tinggal sendirian, karena aku memang kurang
nyaman dengan keramaian. Dan langsung kuarahkan langkah ku kedapur untuk
menyeduh segelas kopi hangat. Pagi ini aku memilih kopi, karena aku teringat
dulu aku sering menghabiskan kopi hitamnya Pak Tomo, penjaga panti dan juga
pengasuh kami dulu. Dan dia sudah aku anggap sebagai pengganti peran ayahku.
Setelah selesai aku
sarapan pagi, aku pun bersiap untuk memacu sepeda kesayanganku dan juga cuma
satu-satunya itu untuk segera ke kantorku. Dan sebelumnya aku pun sudah siap
dengan baju kemeja dan celana jeans ku. Dan memang seperti ini lah aku
sehari-harinya. Aku nyaman dengan semua yang aku kenakan dan juga tidak
mengganggu orang yang melihatnya. Karena memang lebih baik seperti itu. Dan
langsung aku tunggangi sepeda swtiaku untuk langsung menuju ketempat kerjaku.
Dan aku benar-benar menikmati kehidupanku.














